KUMBANG MERAH PENGHISAP KEMBANG PDF

Bagaimana pun juga dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum pada saat dia mengunjungi kekasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu. Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri! Akan tetapi kedatangannya itu langsung disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini. Tetapi kemesraan itu diliputi mendung. Tang Gun yang juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung. Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi amat khawatir.

Author:Arabar Akilabar
Country:Ghana
Language:English (Spanish)
Genre:Politics
Published (Last):22 August 2012
Pages:40
PDF File Size:2.19 Mb
ePub File Size:10.41 Mb
ISBN:818-1-71927-211-7
Downloads:86749
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Feshura



Bagaimana pun juga dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum pada saat dia mengunjungi kekasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu.

Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri! Akan tetapi kedatangannya itu langsung disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini. Tetapi kemesraan itu diliputi mendung.

Tang Gun yang juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung. Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi amat khawatir. Tang Gun menghela napas. Sebab itu aku lalu membunuhnya. Hayo, siapa yang telah bicara dengan A Cui? Mengaku saja!

Aku cukup mengetahui betapa berbahayanya kalau hal itu kulakukan. Akan tetapi A Sui! Aku tahu bahwa engkau adalah sahabat karib A Cui! Wajah A Sui menjadi semakin pucat. Ia menundukkan mukanya, kemudian dia berlutut di atas lantai dan menangis. Engkau lancang mulut! Dia menangis dan pipinya yang tertabrak dinding membiru, juga mulutnya berdarah. Sebelum Tang Gun kembali turun tangan menghajar atau mungkin membunuh bekas dayang yang menjadi kekasihnya itu, mendadak nampak bayangan berkelebat dibarengi suara seorang laki-laki, "Tang Gun, apakah engkau hendak membunuh pula wanita ini seperti engkau membunuh dayang A Cui?

Dia cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata di ruangan itu sudah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali.

Seorang pria yang usianya sudah lima puluh lima tahun, pakaiannya sangat rapi, tubuhnya sedang dan setua itu masih nampak tampan menarik. Melihat bahwa pria itu hanya orang biasa saja, tidak membawa senjata, Tang Gun bersikap garang. Sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka pria itu, dia membentak lantang, "Heh, siapakah engkau yang datang memasuki rumah kami tanpa diundang? Pria setengah tua itu tersenyum mengejek dan kedua matanya mengeluarkan sinar tajam.

Akan tetapi, melihat betapa orang itu hanya seorang diri saja dan tidak bersenjata, maka dia pun menjadi nekat. Dia harus membunuh orang ini apa bila ingin selamat. Secepat kilat dia sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya ke arah dada orang itu. Akan tetapi, dengan lompatan ke kanan Tang Gun sudah cepat membalikkan tubuh, kemudian pedangnya menyambar ganas, kini membacok ke arah leher dan gerakan pedang ini segera disusul dengan tendangan kaki kirinya ke arah bawah pusar lawan.

Serangan ini sangat hebat karena Tang Gun sudah memainkan jurus Li-kong Sia-ciok Li Kong Memanah Batu , gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga yang dahsyat. Namun ternyata lawannya adalah seorang yang lihai sekali.

Dia tak pernah mimpi bahwa lawannya ini adalah orang yang dicari-carinya semenjak dia kecil, yaitu ayah kandungnya sendiri yang berjuluk Ang-hong-cu! Ang-hong-cu Tang Bun An menghadapi serangan dahsyat itu dengan sangat tenang.

Dia melangkah mundur sehingga bacokan tidak mengenai lehernya, dan ketika tendangan itu menyambar lewat, tangannya cepat bergerak menyentuh bawah kaki kemudian sekali dia menggerakkan tenaga ke arah tumit itu, tubuh Tang Gun lantas terlempar dan terjengkang ke belakang!

Dia kini dapat mengerti bahwa lawannya sangat pandai, maka dia menjadi nekat. Dia harus dapat mengalahkan orang itu, atau dia akan celaka! Pedangnya lantas menyambar-nyambar, berubah menjadi cahaya yang bergulung-gulung, yang menyambar-nyambar bagaikan maut kelaparan mencari nyawa. Namun tingkat ilmu kepandaian silat yang dikuasai Tang Gun jauh berada di bawah tingkat Ang-hong-cu yang di samping ilmunya tinggi, juga sudah memiliki pengalaman luas, maka semua sambaran pedangnya tidak pernah mengenai sasaran.

Kalau Si Kumbang Merah itu menghendaki, bahkan dalam beberapa jurus saja Tang Gun tentu sudah roboh dan dikalahkan. Akan tetapi, mengingat bahwa perwira muda ini adalah puteranya sendiri seperti yang sudah diakui oleh Tang Gun dan yang dipercayanya pula, agaknya Si Kumbang Merah hendak menguji sampai di mana ketangguhan pemuda yang mengaku sebagai anaknya itu.

Setelah puas mempermainkan Tang Gun dengan elakan-elakan yang membuat tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara cahaya pedang, tiba-tiba saja Si Kumbang Merah mengeluarkan seruan nyaring. Si Kumbang Merah cepat menyusul dengan totokan ke arah jalan darah thian-hu-hiat, maka tubuh perwira itu pun terkulai lemas tidak mampu bergerak lagi!

Dua orang wanita itu menjadi ketakutan sampai hampir terkencing-kencing. Akan tetapi Si Kumbang Merah tersenyum ramah dan berkata kepada mereka, "Hayo kalian berdua ikut bersamaku. Kereta sudah menunggu di luar. Jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan terhadap kalian dua orang nona manis! Ang-hong-cu menarik tubuh Tang Gun bangun, lalu memapahnya keluar sambil menggiring dua orang wanita itu yang berjalan dengan tubuh menggigil ketakutan.

Ternyata di luar sudah tersedia sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda! Ang-hong-cu yang membayangi Tang Gun dan mengetahui tempat persembunyian perwira dengan dua orang kekasihnya itu telah mempersiapkan kereta untuk memboyong para tawanan itu kembali ke kota raja! Setelah ketiga orang itu berada di dalam kereta, Tang Gun tertotok lemas dan dua orang wanita itu menangis lirih, Ang-hong-cu segera melarikan keretanya menuju ke kota raja. Penangkapan terhadap ketiga orang itu merupakan peristiwa yang aneh karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya!

Dua orang wanita itu pun merasa tak berdaya, hanya mampu menangis ketakutan karena mereka dapat membayangkan bahwa mereka pasti akan menerima hukuman. Orang yang mereka percaya kini telah duduk setengah rebah di dalam kereta, tak dapat bergerak lagi dan hanya mampu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata putus asa dan ketakutan. Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Sebab itu Tang Bun An, jika engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, jika engkau gagal melakukan penangkapan, maka kami akan memberikan hukuman berat!

Sebaliknya, kalau engkau berhasil memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biang keladinya yang membuat mereka minggat dari istana, maka kami akan mengangkatmu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam mau pun yang di luar istana!

Tang Bun An menyatakan kesanggupannya untuk menangkap serta menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwee Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja. Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana. Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran sekali. Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?

Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang itu sudah menjadi tawanannya dan sekarang dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja! Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An segera menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal. Dia pun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka dan dirantai kaki mereka.

Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut sekali melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi pada saat mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya oleh kaisar. Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu. Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan kepalang.

Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan ketiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya. Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw pendeta wanita , harus mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka. Ada pun Tang Gun, karena mengingat akan jasa-jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang sesudah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!

Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar. Dia kemudian diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal! Suatu kedudukan yang tinggi! Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah.

Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, segera memperingatkan kaisar bahwa semestinya dalam menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana tidak dilakukan semudah itu, "Ampun, Sribaginda, memang sudah ada bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An sehingga sudah sepantasnya bila dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu.

Bagaimana pun juga, tingkat kepandaian seorang komandan seharusnya lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga takkan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit mau pun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan seluruh anak buah terhadap komandannya," demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya. Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatan dirinya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian.

Pengujinya adalah seseorang yang sangat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun Panglima Coa yang tadinya menjabat sebagai kepala pasukan pengawal tetapi kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An!

Coa Ciangkun ini terkenal memiliki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia adalah jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya! Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan. Kaisar sendiri langsung tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikit pun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu.

Oleh karena itu kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu. Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An. Kalau junjungan itu menyaksikan sendiri, sudah pasti perwira Coa itu tak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil. Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau nantinya dia akan dicurangi oleh para pembesar istana yang tentu merasa iri hati kepadanya.

Dan dia pun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya. Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia ruang berlatih silat telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat.

Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu. Sesudah memberi hormat dengan berlutut di hadapan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan.

Tang Bun An kemudian memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian. Seorang raksasa berusia empat puluh tahun yang biar pun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya keihatan gesit.

Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa gentar. Dia percaya kepada kemampuan dirinya. Sekelebatan saja dia tahu bahwa dalam menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga. Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang sangat kuat, baik tenaga otot mau pun tenaga dalam.

Karena itu, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan bisa mengatasi lawannya dalam hal kecepatan.

Memang dia terkenal sebagai seorang ahli ginkang yang hebat, dan karena mengandalkan ginkang-nya inilah maka selama puluhan tahun ini tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu! Pertandingan ujian itu akan segera dimulai. Untuk mentaati perintah kaisar yang khawatir kalau dua orang yang sangat berguna baginya itu mengalami cidera, maka pertandingan dilakukan dengan tangan kosong. Begitu mereka bergebrak dan saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh dan mempunyai ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai namun gerakannya telah bercampur dengan silat dari utara dan barat.

LIBRO COMPLETO VERONIKA DECIDE MORIR PDF

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 32

Bahkan lebih dari itu. Di dalam penyamarannya sebagai Ang-hong-cu, Han Lojin ini diakui oleh Hay Hay sebagai ayah kandungnya! Tentu saja hal itu mengejutkan hati mereka bertiga yang mendengar keterangan Menteri Cang Ku Ceng. Pembesar itu mengangguk-angguk. Sebelum kami dapat menangkap Tang Gun yang menjadi buronan, kami tak akan bisa mengetahui siapa yang membebaskannya. Akan tetapi yang akan kubicarakan ini adalah urusan lain.

BILANT SEMESTRU 2013 PDF

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang

.

Related Articles