ASMARA DIBALIK DENDAM MEMBARA PDF

Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 34 Kho Ping Hoo Pemuda itu memiliki tenaga sakti yang lebih kuat dari padanya! Dia merasa penasaran sekali dan belum mau percaya. Dengan geram dia lalu menekuk kedua lututnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan kemampuannya, lalu memukulkan kedua tangannya yang terbuka, mendorong ke arah Budhi. Dia mengeluarkan teriakan melengking untuk menambah daya tolakan kedua tangannya. Kalau Budhi terhuyung ke belakang, Pangeran Sepuh itu terjengkang dan roboh terbanting! Akan tetapi pangeran ini memang sakti dan kebal.

Author:Vutaur Kajijora
Country:Italy
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):26 February 2011
Pages:391
PDF File Size:10.13 Mb
ePub File Size:4.39 Mb
ISBN:262-4-87057-621-8
Downloads:5528
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tauzshura



Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 34 Kho Ping Hoo Pemuda itu memiliki tenaga sakti yang lebih kuat dari padanya! Dia merasa penasaran sekali dan belum mau percaya.

Dengan geram dia lalu menekuk kedua lututnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan kemampuannya, lalu memukulkan kedua tangannya yang terbuka, mendorong ke arah Budhi. Dia mengeluarkan teriakan melengking untuk menambah daya tolakan kedua tangannya. Kalau Budhi terhuyung ke belakang, Pangeran Sepuh itu terjengkang dan roboh terbanting!

Akan tetapi pangeran ini memang sakti dan kebal. Dia sudah meloncat bangun lagi dan ditangannya sudah tergenggam sebatang keris yang mengeluarkan wibawa menyeramkan. Budhi juga merasakan getaran hebat dari wibawa keris itu dan tahulah dia bahwa keris itu memang sangat ampuh.

Dia telah dikalahkan pemuda itu di depan banyak orang dan hal ini dianggap amat menghina dan merendahkan martabatnya. Terdengar bentakan yang lembut namun penuh wibawa. Ketika mereka melihat Sang Prabu Jayabaya yang diiringkan para pengawal yang dipimpin senopati Lembudigdo dan para senopati lainnya, mereka menjadi pucat ketakutan dan segera mundur meninggalkan ruangan itu.

Di luar telah menanti pasukan pengawal kerajaan yang segera melucuti senjata mereka. Semua terjadi tanpa keributan, karena para anak buah Pangeran Sepuh maklum bahwa melawanpun tidak akan ada gunanya. Sementara itu, ketika melihat munculnya Sang Prabu Jayabaya, wajah Pangeran Sepuh berubah pucat pula dan dengan senyum dibuat-buat dia menegur.

Pusaka ini Kami telah mengetahui semuanya. Sudah lama kami mendengar laporan para penyelidik bahwa diam-diam kakangmas Pangeran menghimpun kekuatan di luar istana. Kakangmas hendak mencalonkan Pangeran Panjiluwih dan menyingkirkan pangeran mahkota.

Juga menyingkirkan semua pangeran dan anggota keluarga yang kiranya akan menentang rencana andika! Akan tetapi karena kami belum memperoleh bukti, kami masih belum bertindak. Dan tadi, Kakangmas Pangeran, kami telah mendengar semuanya! Ternyata kakangmas yang menjadi pemimpin persekutuan dengan sebutan Kanjeng Gusti, dan kakangmas pula yang telah merampas Tilam Upih secara diam-diam saja dari adipati Nusa Kambangan.

Jelas kakangmas hendak memberontak! Dan kakangmas memilih Pangeran Panjiluwih karena ibunya adalah puteri Blambangan yang kakangmas jagokan untuk mendukung gerakan kakangmas. Kami telah mengetahui semua! Dahulu aku yang mendambakan kedudukan raja, akan tetapi mendiang kanjeng rama bersikap tidak adil, memilih andika yang lebih muda menjadi pangeran mahkota.

Sekarang, andika juga pilih kasih, memilih Pangeran Arya Iswara menjadi putera mahkota, padahal masih banyak pangeran lain yang lebih tua. Memang aku tidak mau menerima ketidak-adilan ini, aku ingin mengangkat Pangeran Panjiluwih menjadi putera mahkota. Akan tetapi kami telah gagal, dan karena andika sendiri yang telah mengetahui semua rahasiaku, maka andika yang lebih dulu harus mati di tanganku!

Juga Senopati Lembudigdo sudah siap bersama pasukannya untuk mengepung Pangeran Sepuh Wijayanto yang agaknya hendak mengamuk dengan keris pusaka Tilam Upih di tangan.

Akan tetapi sambil tersenyum Sang Prabu Jayabaya mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberi isarat kepada semua orang untuk mundur. Kemudian dengan sikapnya yang tenang sekali, raja yang bijaksana dan sakti mandraguna itu melangkah maju menghadapi kakaknya. Andika tidak akan berhasil. Sebaiknya andika menyadari kesalahan, cepat menyerah dan mungkin kami masih akan memperingan hukumanmu.

Engkau atau aku yang harus mati! Sang Prabu Jayabaya tetap tenang saja. Ketika keris itu sudah meluncur dekat, dia melompat ke kiri menghindarkan diri, kemudian kakinya mencuat dan menendang dengan kecepatan kilat. Akan tetapi dia dengan cepat sudah meloncat bangkit kembali dan menyerang untuk kedua kalinya, lebih cepat dan lebih dahsyat. Sang Prabu Jayabaya kembali mengelak dan untuk ke dua kalinya, kakinya menendang dan kembali tubuh Pangeran Sepuh terlempar dan terbanting keras.

Sebetulnya, dengan dua kali terbanting itu saja, Pangeran Sepuh sudah menyadari bahwa dia tidak akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi dia sudah putus asa dan menjadi nekat. Biarpun tubuhnya sudah merasa sakit-sakit karena dua kali terlempar dan terbanting, dia bangkit lagi dan memasang kuda-kuda, mengerahkan seluruh tenaganya. Sang Prabu Jayabaya memandang dengan sinar mata mencorong seperti mengeluarkan api dan suaranya terdengar tegas.

Akan tetapi sekali ini, Sang Prabu Jayabaya sudah mengerahkan aji kesaktian dan kekebalannya, berdiri tegak seperti sebuah arca yang kokoh.

Keris pusaka Tilam Upih di tangan Pangeran Sepuh datang menyambar ke arah dada, diterima oleh dada itu tanpa mengelak sedikitpun. Kerisnya seperti mengenai benteng baja yang kokoh kuat, sama sekali tidak mampu menembus kulit yang sudah dilindungi aji kekebalan yang disebut Aji Ontokusumo.

Pangeran Sepuh Wijayanto seperti tidak percaya. Kerisnya adalah Tilam Upih! Tidak mungkin dapat ditolak aji kekebalan. Dia menusuk lagi. Akan tetapi memang pangeran itupun seorang yang kebal, tamparan itu hanya membuat dia pusing sejenak.

Lalu dia bangkit berdiri mengamati keris di tangannya seolah tidak percaya akan keaslian pusaka itu, kemudian dia mengayun keris itu ke ulu hatinya sendiri. Semua orang lalu berlutut menyembah kepada Sang Prabu Jayabaya.

Raja yang sakti mandraguna ini menghela napas panjang, menghampiri jenazah kakaknya, mencabut keris Tilam Upih dari dadanya lalu menyerahkannya kepada Senopati Lembudgdo. Dalam peristiwa ini, Sang Prabu Jayabaya memperlihatkan kebijaksaannya. Dia mengampuni seluruh keluarga Pangeran Sepuh. Bahkan hanya menegur keras kepada Pangeran Panjiluwih yang dianggap terkena hasutan Pangeran Sepuh.

Bekas pasukan Pangeran Sepuh dibubarkan dan tentu saja Gajahpuro juga dibebaskan karena Niken Sasi mintakan ampun untuk pemuda yang pada terakhirya kembali memperlihatkan sikap membelanya itu. Budhidharma, Dewi Muntari dan Niken Sasi dipanggil menghadap ke istana.

Gusti Prabu Jayabaya tersenyum. Dia telah mendahuluimu mencuri keris pusaka itu. Akan tetapi, sudahlah, keris pusaka itu sudah kembali kepada kami. Sekarang kami ingin mendengar ceritamu, nini Dewi Muntari, dan andika, cucuku Niken Sasi. Apa yang telah kalian alami setelah kalian dirampok dan Rangsang dibunuh? Ia tidak bersalah, bahkan berjasa besar. Pantas engkau berani menentang paman-tuamu, kiranya engkau sudah digembleng oleh Ni Durgogini! Dan bagaimana dengan pengalamanmu selama ini, cucunda Niken Sasi?

Agaknya engkau telah menjadi seorang gadis yang trengginas dan digdaya. Apakah engkau juga memperoleh seorang guru yang sakti? Ketika kanjeng ibu menyuruh hamba melarikan diri, hamba terjatuh ke dalam telaga kecil.

Hamba diselamatkan oleh Ki Sudibyo, ketua Gagak Seto dan hamba menjadi muridnya. Juga diceritakan tentang Budhidharma yang menolongnya berulang kali sampai pengalaman mereka yang hebat di Gagak Seto ketika mereka dijebak oleh Klabangkoro. Gadis itu menonjolkan budi pertologan yang dilakukan Budhidharma dan agaknya hal ini diketahui pula oleh kakeknya sehingga Sang Prabu Jayabaya hanya tersenyum mendengarkan. Oleh karena itu, kami mengangkatmu menjadi seorang senopati muda di kerajaan Kediri!

Melihat ini, Niken Sasi cepat menyentuh lengannya. Dewi Muntari kembali ke tempat tinggalnya yang dahulu, yang delapan tahun yang lalu ditinggali bersama suaminya dan yang sampai sekarang masih dipelihara baik-baik atas perintah Sang Prabu Jayabaya. Budhidharma juga mengikuti ibu dan anak itu. Di rumah mereka, Dewi Muntari lalu membicarakan urusan perjodohan antara puterinya dan Budhidharma. Sebagai seorang ibu yang waspada, tanpa bertanya sekalipun ia sudah lama tahu bahwa terdapat hubungan kasih sayang di antara kedua orang muda itu.

Sepasang orang muda itu tersipu malu ketika Dewi Muntari terang-terangan mengajak mereka bicara tentang perjodohan mereka. Urusan ini tentu selalu mendesak dihati kalian, akan tetapi setelah diajak bicara tentang hal ini, kalian malah diam saja. Apakah kalian tidak setuju? Beliau seorang raja yang adil dan arif bijaksana. Bukankah aku sendiri juga dijodohkan dengan seorang senopati yang berkedudukan rendah dan dari rakyat biasa?

Aku tanggung bahwa Kanjeng Rama Prabu pasti akan menyetujui perjodohan kalian. Bukankah engkau calon mantuku?

Oleh karena itu, tadi ketika berpisah dari Gajahpuro, saya memesan agar dia suka pergi ke Gagak Seto menemui saya. Gajahpuro adalah seorang pemuda yang baik dan gagah, sudah sepatutnya kalau dia yang menjadi ketua Gagak Seto.

Kalian mengatakan bahwa dia putera Klabangkoro, akan tetapi di depan Pangeran Sepuh dia menyangkal bahwa dia bukan putera Klabangkoro. Siapa sebetulnya anak itu? Kalau bertemu dengannya tentu akan kupertanyakan hal itu. Demikianlah, setelah tinggal di rumah Dewi Muntari, di komplek istana, selama beberapa hari, pada suatu hari Budhidharma bersama Niken Sasi meninggalkan isana menuju ke pegunungan Anjasmoro.

GRILLAGE FOOTING PDF

Tinyu PDF Me

Bukit barisan itu seolah menjadi semacam tanggul untuk Laut Kidul, berbaris memanjang dari barat ke timur. Ratusan bukit berjajar-jajar seperti barisan raksasa. Karena melakukan perjalanan jauh berhari-hari, Budhi merasa lelah juga. Terik panas matahari membakar di daerah gersang itu, daerah pegunungan kapur yang kebanyakan gundul. Dia berhenti di bawah sebatang pohon randu alas yang besar sekali. Randu alas ini merupakan pohon yang tahan panas dan tahan kekurangan air.

PSALTIREA LUI DAVID PDF

Asmara Dibalik Dendam Membara Jilid 34

.

AOPEN AK33 PDF

ASMARA DIBALIK DENDAM MEMBARA PDF

.

Related Articles